Academia.eduAcademia.edu

Outline

MAKALAH PENELITIAN KUALITTATIF

2026, unpublished paper

Abstract

Pemilihan informan dan penerapan strategi sampling merupakan tahapan krusial dalam penelitian kualitatif yang secara langsung menentukan kedalaman serta keabsahan data yang diperoleh. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang mengejar representasi statistik, penelitian kualitatif berfokus pada kekayaan informasi (information-richness). Makalah ini bertujuan untuk menguraikan secara komprehensif berbagai strategi sampling non-probabilitas serta langkah-langkah sistematis dalam memilih informan kunci dan utama. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi literatur (literature review) dengan menganalisis berbagai referensi metodologi penelitian kualitatif kontemporer. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa purposive sampling dan snowball sampling merupakan dua teknik yang paling efektif untuk menjangkau kelompok subjek yang spesifik atau terisolasi. Selain itu, makalah ini menegaskan bahwa jumlah informan dalam penelitian kualitatif tidak ditentukan oleh angka nominal atau rumus statistik, melainkan oleh prinsip saturasi data (data saturation), yaitu titik di mana tidak ada lagi informasi baru atau variasi variabel yang ditemukan. Implikasi dari telaah ini diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi peneliti pemula dan mahasiswa dalam merancang desain penelitian kualitatif yang metodologis, rigor, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Makalah STRATEGI SAMPLING DAN PEMILIHAN INFORMAN DALAM PENELITIAN KUALITATIF Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kuliah Materi : Metode Penelitian Kualitatif Dosen Pengampu : Paisun, M.Pd.I Semester : IV PAID “24” Oleh : kelompok V Noer Hayati Lu’lual Maknun PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ANNUQAYAH (UA) GULUK-GULUK SUMENEP JAWA TIMUR TAHUN PELAJARAN 2025-2026 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pemilihan informan dan strategi sampling dalam penelitian kualitatif memiliki peran yang sangat penting karena kualitas temuan sangat bergantung pada kecocokan dan relevansi partisipan dengan pertanyaan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menekankan representativitas statistik, penelitian kualitatif lebih menekankan pemilihan partisipan secara purposif atau bertarget, sehingga informasi yang diperoleh mendalam, kaya, dan kontekstual. Informan dipilih berdasarkan kemampuan mereka memberikan wawasan, pengalaman, dan perspektif yang relevan terhadap fenomena yang diteliti. Elly Yuniar Nitawati, dkk. Pendekatan Kualitatif dalam Riset Manajemen, (Yayasan Putra Adi Dharma 2025). Rumusan Masalah Bagaimana teknik sampling dalam penelitian kualitatif? Apa saja jenis-jenis strategi sampling yang digunakan dalam penelitian kualitatif? Apa yang dimaksud informan dan bagaimana kategorinya? Bagaimana kriteria, strategi perekrutan, penentuan jumlah informan dan prinsip kejenuhan serta tabel informan? Tujuan Untuk mengetahui teknik sampling dalam penelitian kualitatif Untuk mengetahui jenis-jenis strategi sampling yang digunakan dalam penelitian kualitatif Untuk mengetahui informan dan kategorinya Untuk mengetahui kriteria, strategi perekrutan, penentuan jumlah informan dan prinsip kejenuhan serta tabel informan BAB II PEMBAHASAN Teknik Sampling ( Pengambilan Sampel ) dalam Penelitian Kualitatif Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Sedangkan sampel menurut Sugiyono adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sugiyono, D.Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. (2013). Pengambilan sampel pada pendekatan kualitatif berbeda dengan pengambilan sampel pada pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kuantitatif, pengambilan sampel pada umumnya dilakukan melalui seleksi secara acak, memiliki formulasi tertentu dan wajib ditentukan oleh peneliti pada tahap pembuatan proposal penelitian. Sementara pada penelitian kualitatif, pengambilan sampel memiliki prinsip dasar yaitu data yang didapatkan tidak representatif tetapi lebih dititikberatkan pada penggalian informasi yang ditujukan untuk memperoleh atau menemukan sampel kasus atau individu yang memiliki banyak informasi dan mendalam tentang fenomena yang diteliti. Penentuan jumlah sampel pada penelitian kualitatif didasari pada fokus atau tujuan, topik penelitian, lokasi penelitian, dan situasi atau konteks yang menjadi sampel yang diteliti. Selain itu, penentuan sampel juga bergantung pada teori dan berbagai keputusan tentang siapa atau objek apa saja yang diseleksi untuk menjadi sampel penelitian baik dilakukan sebelum pengumpulan data atau pada saat pengumpulan data berlangsung. Pada penelitian kualitatif bukan hal yang wajib dilakukan peneliti untuk menentukan jumlah sampel secara tepat di awal penelitian. Peneliti cukup menentukan rentang jumlah sampel yang diperlukan (misal diperlukan 3-10 partisipan) disertai sumber referensi yang menjadi rujukannya. Dalam penelitian kualitatif, komponen yang sangat penting salah satunya adalah pemilihan dari responden yang akan digunakan dalam penelitian. Seperti halnya dalam penelitian kuantitatif, dalam penelitian kualitatif perlu adanya teknik sampling. Peneliti kualitatif biasanya menggunakan teknik nonprobability sampling yang bertujuan untuk memilih kasus yang kaya informasi. Pada dasarnya teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; Probability sampling dan Nonprobability sampling. Dalam penelitian kualitatif, sampling nonprobability merupakan pendekatan utama yang digunakan untuk memilih partisipan atau informan berdasarkan kriteria relevansi dan kemampuan memberikan informasi mendalam, bukan sekadar representativitas statistik. Berbeda dengan sampling probabilitas yang menekankan peluang setiap individu terpilih secara acak, sampling nonprobabilitas lebih menekankan kualitas data dan kedalaman wawasan yang diperoleh dari partisipan. Pendekatan ini sangat cocok untuk penelitian yang bertujuan memahami fenomena kompleks, perilaku manusia, atau konteks organisasi secara mendalam. Elly Yuniar Nitawati, dkk. Pendekatan Kualitatif dalam Riset Manajemen, (Yayasan Putra Adi Dharma 2025). Beberapa jenis sampling nonprobabilitas yang umum digunakan dalam penelitian kualitatif meliputi purposive sampling, yaitu pemilihan partisipan berdasarkan karakteristik atau pengalaman tertentu yang dianggap relevan dengan tujuan penelitian; snowball sampling, di mana informan awal merekomendasikan partisipan lain yang relevan dan memiliki pengalaman serupa; dan convenience sampling, yaitu pemilihan partisipan berdasarkan kemudahan akses, meskipun tetap mempertimbangkan relevansi data. Selain itu, theoretical sampling digunakan dalam penelitian yang bertujuan mengembangkan teori, di mana partisipan dipilih secara iteratif berdasarkan temuan awal agar konsep dan kategori dapat lebih diperluas atau diperjelas. Jenis-Jenis Strategi Sampling yang di Gunakan dalam Penelitian Kualitatif Purposive Sampling Purposive sampling atau judgmental sampling adalah teknik pengambilan sampel secara sengaja berdasarkan pertimbangan peneliti terhadap karakteristik tertentu yang dimiliki oleh partisipan yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk fokus pada individu yang memiliki informasi mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Dalam praktiknya, purposive sampling sering digunakan dalam studi fenomenologis, studi kasus, dan penelitian etnografi. Teknik ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi partisipan yang dianggap sebagai “informan kunci” karena memiliki pengalaman langsung, pengetahuan mendalam, atau posisi strategis dalam konteks fenomena yang diteliti. Beberapa variasi purposive sampling mencakup maximum variation sampling (memilih kasus dari spektrum yang luas), typical case sampling (memilih kasus yang dianggap mewakili populasi umum), dan expert sampling (memilih individu yang memiliki keahlian khusus). Campbell et al menekankan bahwa purposive sampling dapat meningkatkan kredibilitas dan transferabilitas data dengan memastikan bahwa sampel yang dipilih sesuai dengan fokus penelitian. Mereka juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses pemilihan sampel untuk meningkatkan kepercayaan terhadap hasil penelitian. Coyne membahas kompleksitas dalam penggunaan purposive sampling, terutama dalam membedakannya dengan theoretical sampling. Ia menekankan perlunya pemahaman yang jelas mengenai tujuan dan konteks penggunaan masing-masing teknik untuk menghindari kebingungan terminologi dan meningkatkan kualitas metodologi penelitian. Coyne, I. T. Sampling in qualitative research. Purposeful and theoretical sampling; merging or clear boundaries. (1997). Teknik ini banyak digunakan dalam studi fenomenologi, di mana fokus penelitian adalah menggali pengalaman subjektif dari partisipan terkait fenomena tertentu, seperti pengalaman spiritual, trauma, atau proses penyembuhan. Kelebihan purposive sampling adalah kemampuannya menyediakan data yang mendalam dan fokus. Namun, keterbatasannya terletak pada potensi bias subjektif peneliti dalam memilih partisipan yang dianggap "layak". Sebagai contoh, dalam studi mengenai kepemimpinan perempuan di pesantren, peneliti dapat secara sengaja memilih pimpinan pesantren perempuan yang telah lama menjabat, memiliki pengaruh besar, dan aktif di organisasi keagamaan. Snowball Sampling Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel di mana partisipan awal merekomendasikan individu lain yang memiliki karakteristik serupa untuk turut serta dalam penelitian. Teknik ini sangat berguna dalam menjangkau populasi yang sulit diakses atau tersembunyi, seperti komunitas minoritas atau kelompok dengan pengalaman khusus. Snowball sampling cocok untuk studi yang meneliti fenomena sensitif seperti korban kekerasan, pengguna narkoba, atau komunitas tertutup seperti pengungsi. Teknik ini memungkinkan partisipan merasa lebih nyaman karena rujukan datang dari orang yang mereka percaya. Risiko utama dari teknik ini adalah bias jaringan, di mana partisipan yang direkrut cenderung memiliki karakteristik atau pandangan yang seragam, sehingga mengurangi keberagaman perspektif yang bisa digali. Naderifar et al. menjelaskan bahwa snowball sampling efektif dalam menjangkau kelompok-kelompok seperti komunitas minoritas atau individu dengan pengalaman khusus, dengan memanfaatkan jaringan sosial partisipan awal untuk merekrut partisipan tambahan. Noy mengkaji snowball sampling dari perspektif hermeneutik, menyoroti bagaimana teknik ini tidak hanya sebagai metode pengambilan sampel tetapi juga sebagai proses interaksi sosial yang dapat menghasilkan pengetahuan yang kaya dan kontekstual. Ia menekankan pentingnya memahami dinamika kekuasaan dan jaringan sosial dalam proses ini. Noy, C. Sampling Knowledge: The Hermeneutics of Snowball Sampling in Qualitative Research (2008). Teknik ini sangat bermanfaat untuk menjangkau populasi tersembunyi atau sensitif, seperti komunitas LGBTQ+, mantan narapidana, pengguna narkoba, atau korban kekerasan rumah tangga, di mana pendekatan langsung bisa dianggap invasif. Kelebihannya adalah peneliti dapat memperoleh akses ke jaringan sosial yang sulit ditembus. Namun, teknik ini memiliki kekurangan, seperti potensi kurangnya keberagaman dan dominasi karakteristik tertentu karena rujukan berasal dari jejaring sosial yang serupa. Dalam studi tentang imigran ilegal, misalnya, partisipan pertama dapat memperkenalkan peneliti kepada temannya yang juga imigran, lalu temannya memperkenalkan partisipan berikutnya, dan seterusnya. Theoretical Sampling Theoretical sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam pendekatan Grounded Theory, di mana pemilihan sampel dilakukan secara iteratif berdasarkan kebutuhan pengembangan teori yang sedang dibangun. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk memilih partisipan yang dapat memberikan data yang paling relevan untuk mengembangkan kategori atau konsep yang muncul selama analisis data. Proses ini biasanya dimulai setelah analisis data awal menunjukkan adanya kategori atau konsep awal, lalu peneliti mencari data tambahan yang dapat memperluas, menyempurnakan, atau bahkan menantang kategori tersebut. Theoretical sampling tidak selalu mengikuti alur linier. Dalam praktiknya, proses ini bersifat siklik: analisis sementara, identifikasi kebutuhan data baru, pengambilan sampel baru, analisis lanjutan, dan seterusnya hingga teori yang muncul dianggap “jenuh” (theoretical saturation). Alordiah dan Oji menekankan bahwa theoretical sampling memungkinkan peneliti untuk mencapai kejenuhan teori dengan menggali data secara mendalam dan sistematis. Mereka juga menyoroti pentingnya sensitivitas teoretis dan refleksi kritis dalam proses ini untuk memastikan validitas dan kredibilitas temuan penelitian. Coyne membahas perbedaan antara purposive sampling dan theoretical sampling, menekankan bahwa meskipun keduanya sering digunakan dalam penelitian kualitatif, mereka memiliki tujuan dan aplikasi yang berbeda. Pemahaman yang jelas mengenai perbedaan ini penting untuk meningkatkan kualitas metodologi penelitian. Teknik ini tidak dimulai dengan jumlah sampel yang tetap, tetapi berkembang seiring proses analisis. Peneliti mengumpulkan, mengodekan, dan menganalisis data secara simultan untuk menentukan ke mana arah pencarian data berikutnya. Keunggulannya adalah fleksibilitas tinggi dan kemampuan mendalam untuk membangun teori yang grounded atau berakar dari data. Namun, kekurangannya adalah kebutuhan keterampilan analisis yang tinggi dan waktu penelitian yang lebih lama. Misalnya, dalam studi mengenai keputusan perempuan untuk kembali bekerja setelah melahirkan, peneliti mungkin awalnya mewawancarai ibu pekerja, kemudian berdasarkan data awal, mencari ibu tunggal, lalu suami atau atasan mereka untuk memperluas perspektif. Teknik ini sangat efektif dalam menghindari asumsi awal dan membantu peneliti tetap terbuka terhadap temuan baru yang muncul dari data. Convenience Sampling Convenience sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan kemudahan akses peneliti terhadap partisipan. Teknik ini sering digunakan karena praktis dan hemat biaya, namun memiliki keterbatasan dalam hal kredibilitas dan transferabilitas data. Teknik ini banyak digunakan dalam penelitian eksploratif, studi pendahuluan, atau penelitian mahasiswa yang memiliki keterbatasan akses dan waktu. Meskipun praktis, hasil dari teknik ini lebih cocok digunakan sebagai titik awal untuk penelitian lanjutan yang lebih sistematis. Marshall mencatat bahwa convenience sampling dapat berguna dalam tahap eksplorasi awal, meskipun hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati karena keterbatasan dalam generalisasi. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran peneliti terhadap potensi bias yang dapat timbul dari penggunaan teknik ini. Convenience sampling banyak digunakan dalam penelitian awal atau eksploratif, seperti survei mahasiswa di kampus, observasi awal konsumen di pusat perbelanjaan, atau wawancara pengguna layanan publik. Kelebihan utamanya adalah efisiensi dalam waktu dan biaya. Namun, kelemahannya adalah bias besar terhadap siapa yang tersedia, sehingga hasilnya tidak representatif dan sulit untuk digeneralisasikan. Peneliti yang menggunakan convenience sampling perlu menuliskan keterbatasan teknik ini secara eksplisit dalam laporan hasil penelitian untuk menjaga integritas ilmiah. Convenience sampling memiliki faktor kelebihan dan kekuranganyang diantaranya: Kelebihan : Praktis dan efesien. Convenience sampling sangat mudah dilakukan karena peneliti memilih partisipan yang paling mudah dijangkau. Ini menghemat waktu, tenaga, dan biaya terutama dalam penelitian dengan sumber daya terbatas. Cepat untuk studi Eksrploratif. Cocok digunakan untuk studi pendahuluan atau eksploratif, ketika tujuan penelitian adalah mengidentifikasi isu awal, membangun hipotesis, atau menguji instrumen penelitian. Akses lansung ke partisipan. Peneliti dapat langsung mengumpulkan data tanpa harus melalui proses perekrutan yang kompleks, yang sangat berguna dalam penelitian lapangan dengan waktu terbatas. Memudahkan peneliti Pemula. Bagi peneliti pemula atau mahasiswa, teknik ini mempermudah proses belajar melakukan wawancara, observasi, atau focus group discussion. Kekurangan Kurang Representatif Sampel yang diambil berdasarkan kemudahan akses seringkali tidak mewakili populasi atau kelompok yang relevan dengan topik penelitian. Hal ini mengurangi validitas temuan. Bias seleksi tinggi Karena partisipan dipilih secara non-random dan berdasarkan ketersediaan, hasilnya bisa terdistorsi oleh karakteristik tertentu yang tidak disengaja, seperti usia, latar belakang pendidikan, atau lokasi. Keterbatasan Generalisasi Data yang dihasilkan biasanya bersifat kontekstual dan sulit digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Temuan lebih bersifat deskriptif daripada konklusif. pengertian dan kategori informan Informan adalah individu yang memberikan informasi, narasi, dan konteks mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Berbeda dengan responden kuantitatif yang pasif dalam mengisi angket, informan kualitatif bertindak sebagai mitra bercerita bagi peneliti. Dalam praktiknya, penelitian kualitatif membagi informan ke dala tiga kategori utama berdasarkan penguasaan informasi posisinya dalam struktur sosial yang di teliti: Informan kunci (key informan): individu yang memiliki pengetahuan mendalam, otoritas, atau posisi setrategis sehingga dapat memahami seluk-beluk masalah penelitian. Mereka biasanya membantu peneliti mendapatkan akses awal ke lapangan. Informan utama: individu yang mengalami atau terlibat langsung secara personal dalam fenomena sosial yang sedang di teliti. Narasi utama dan pengalaman empiris mereka menjadi basis data kualitatif utama. Informan pendukung: individu yang tidak terlibat langsung secara penuh namun dapat mendapatkan informasi tambahan, verifikasi,atau persepektif pembanding, gunayang tidak terlibat langsung secara penuh namun dapat memberikan informasi tambahan, verifikasi, atau perspektif pembanding guna memperkuat keabsahan data (triangulasi sumber). Kriteria, Strategi Perekrutan, Penentuan Jumlah Informan dan Prinsip Kejenuhan serta Tabel Informan Kriteria Informan yang baik Merujuk pada pendapat James spradleydan Sugiyono, kualitas data kualitatif bergantung pada ketetapan memilih informan. Informan yang ideal harus memenuhi kategori berikut: Subjek Enkulturasi penuh Mengalami, merasakan, dan terlibat langsung dalam lingkaran sosial atau fenomena yang di teliti. Keterlibatan Langsung: Masih aktif atau beraktivitas dalam latar belakang penelitian, bukan sekadar pengamat jarak jauh. Ketersediaan waktu: Memiliki waktu yang cukup dan bersedia di wawancarai secara mendalam tanpa ketergesaan Non- analitis: Cenderung menceritakan kejadian apa adanya berdasarkan pengalaman nyata,bukan memberikan interpretasi teoritis buatan. Kondisi Sehat & kooperatif: Sehat secara jasmani dan rohani serta mampu berkomunikasi dan ber argumentasi dengan baik. Strategi Perekrutan Informan Tahapan-tahapan dalam perekrutan informan. Ade Heryana. Informan dan pemeilihan Informan dalam Penelitian Kualitatif. Melakukan analisis peran informan Yang dimaksud dengan peran informan di sini adalah kedudukannya dalam pengumpulan data penelitian sehingga dapat menghasilkan informasi yang relevan. Kedudukan tersebut dapat sebagai sebagai informan kunci, utama, atau pendukung. Informasi yang diharapkan dari informan adalah informasi yang sesuai dengan kerangka teori dan kerangka konsep yang dipakai peneliti.Dengan demikian peran informan penelitian dapat ditentukan berdasarkan dua kondisi yaitu: berdasarkan teori dan berdasarkan masalah penelitian. Penentuan peran berdasarkan teori digunakan pada penelitian yang bermaksud memperkuat atau menambah landasan sebuah teori. Sedangkan penentuan peran informan berdasarkan masalah penelitian bertujuan memberikan informasi sesuai dengan indikator-indikator permasalahan yang akan digali oleh peneliti. Biasanya digunakan pada penelitian kualitatif yang bertujuan mengevaluasi suatu program, mengetahui pendapat/opini seseorang, memahami/mempelajari perilaku seseorang dan sebagainya. Mencari informasi ketersediaan informan yang sesuai Tahap selanjutnya peneliti mengidentifikasi “ketersediaan” informan di lapangan. Untuk mendapatkan informasi ini peneliti dapat memperolehnya dari orang yang dianggap senior/dituakan dalam lingkup sosial masyarakat, seperti: tokoh masyarakat, pimpinan organisasi, kepala adat, tokoh agama, dan sebagainya. Pada beberapa kasus, orang-orang yang dituakan dalam tatanan sosial masyarakat dapat dijadikan informan kunci bila memenuhi kriteria dan dapat kooperatif dengan peneliti. Memutuskan penerimaan/penolakan informan Namun demikian keputusan tentang menentukan siapa yang tepat menjadi informan tetap ada pada peneliti. Hal ini untuk menghindari bias informasi bila penentuan hanya ditentukan oleh pihak di luar tim penelitian. Kondisi ini umumnya terjadi pada penelitian yang bertujuan mengevaluasi suatu program atau kinerja sebuah organisasi. Seringkali penentuan informan ditentukan oleh pimpinan program/organisasi untuk memastikan hasil yang subyektif berdasarkan keinginan pimpinan. Penentuan Jumlah Informan dan Prinsip Kejenuhan (saturation) Penelitian kualitatif tidak mengenal batas minimum atau angka mutlak jumlah informan. Penelitian bahkan bisa di lakukan hanya dengan satu informan (studi kasus tunggal) jika data yang di hasilkan sudah cukup. Dengan demikian pada penelitian kualitatif ada tiga kondisi dalam penentuan jumlah informan (lihat gambar 3): Peneliti dapat menambah jumlah informan, jika informasi dirasakan masih kurang. Misalnya penelitian didesain dengan melibatkan 3 informan utama. Namun dalam wawancara masih terdapat variabel/indikator yang belum cukup informasi. Maka dalam hal ini peneliti dapat menambah informan hingga informasi yang diperoleh telah cukup. Peneliti dapat mengurangi jumlah informan jika informasi yang dirasakan sudah mencukupi. Misalnya penelitian didesain dengan melibatkan 5 informan. Ternyata dengan 2 informan sudah cukup memberikan informasi yang dibutuhkan. Maka peneliti dapat menghentikan proses pengumpulan data dengan cukup hanya 2 informan saja. Peneliti dapat mengganti informan (hal yang sulit dilakukan dalam penelitian kuantitatif) jika informan tersebut tidak kooperatif dalam wawancara. Misalnya informan tidak jujur dalam menjawab dan ada kesan sengaja memberikan informasi palsu, maka peneliti dapat menghentikan pengumpulan data dari informan tersebut. Ukuran utama yang di gunakan adalah kejenuhan data (data saturation). Kejenuhan tercapai ketika penambahan informan baru tidak lagi menghasilkan informasi, varisi ide, atau tema baru. Jika pola jawaban dari informasi ke-8 hingga ke-10 sudah sama persis dengan informan sebelumnya ,makasih proses pencarian data harus di hentikan karena data telah jenuh Tabel Informan Dalam penelitian kualitatif, tabel informan berfungsi untuk mendokumentasikan dan mengklasifikasikan narasumber. Tabel ini umumnya memuat nomor, nama, jenis kelamin (L/P), usia, instansi atau pekerjaan, peran (seperti informan kunci atau pendukung), serta keterangan spesifik terkait relevansi mereka dengan tujuan penelitian. No Nama Informan Inisial Usia Jabatan/ pekerjaan Kategori Ket 1 Dr. Budi Santoso M.Si. BS 48 Kepala Dinas Pariwisata Informan kunci Mengetahui kebijakan dan arah pengembangan wisata daerah 2 Siti Aisyah, S.Par. SA 35 Ketua Pengelola Desa Wisata Informan utama Terlibat langsung dalam operasional harian dan kendala di lapangan 3 Ahmad Fauzi AF 28 Pedagang lokal Informan pendukung Memberikan perspektif terkait dampak ekonomi pariwisata bagi warga BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan rumusan masalah dapat disimpulkan bahwa teknik sampling dalam penelitian kualitatif adalah teknik memilih informan secara sengaja berdasarkan tujuan penelitian, bukan acak. Strategi sampling yang sering dipakai yaitu purposive, snowball, dan theoretical sampling, tergantung kebutuhan data yang dicari peneliti. Informan adalah orang yang memberi informasi penting tentang topik penelitian. Kategorinya ada informan kunci, utama, dan tambahan. Jumlah informan tidak ditentukan dari awal, tapi berhenti saat data sudah jenuh. Data jenuh artinya informasi yang didapat sudah sama dan tidak ada hal baru lagi. Jadi, kunci penelitian kualitatif ada pada kedalaman data dari informan yang tepat, bukan jumlah yang banyak. DAFTAR PUSTAKA Elly Yuniar Nitawati, dkk.( 2025). Pendekatan Kualitatif dalam Riset Manajemen, Yayasan Putra Adi Dharma Sugiyono, D. (2013) Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D.. Coyne, I. T. (1997). Sampling in qualitative research. Purposeful and theoretical sampling; merging or clear boundaries. Noy, C. (2008). Sampling Knowledge: The Hermeneutics of Snowball Sampling in Qualitative Research . Heryana Ade. Informan dan pemeilihan Informan dalam Penelitian Kualitatif
About the author
Papers
2
View all papers from Noer Hayatiarrow_forward